Cara-Mengoreksi-Diri-Dalam-Penjelasan-Khutbah-Jumat

Contoh khutbah Jum’at tentang Muhasabah sendiri – Poembaca rahimkumullah, pada halaman ini Dutadakwah akan memberikan materi tentang Muhasabah. Demikianlah pengertian Muhasabah, manfaat Muhasabah, dan cara Muhasabah dengan pembahasan yang singkat dan jelas. Silakan lihat ikhtisar berikut untuk detail lebih lanjut.
Contoh khutbah Jum’at tentang cara muhasabah untuk diri sendiri

Materi khotbah ini ditulis untuk membaca dan untuk referensi pengkhotbah untuk berkhotbah. Bahan ini bisa diubah tergantung kondisi. Yang terpenting adalah tidak membacanya. Jika rukun Khutbah tidak disampaikan, maka Jum’atan batal.

 

 

Cara-Mengoreksi-Diri-Dalam-Penjelasan-Khutbah-Jumat

Berikut Ini Telah Kami Kumpulkan Yang Bersumber Dari Laman https://www.dutadakwah.co.id/ Yang Akhirnya Saya Tuliskan Disini.

 

Khotbah pertama

Puji bagi Tuhan yang membimbing kami untuk ini dan kami tidak akan membimbing kami jika bukan karena bimbingan Tuhan bahwa utusan Tuhan kita datang dengan kebenaran dan mereka menginginkan surga yang diwariskan oleh apa yang biasa Anda lakukan: 43 Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Tuhan dan aku bersaksi bahwa tuan kita Muhammad adalah hamba dan utusannya, semoga Tuhan memberkati dan memberkati tuan kita Muhammad, keluarganya, sahabat, dan mereka yang mengikuti Dengan kebajikan sampai hari kiamat (adapun setelah ) Ya Tuhan, ajari kami apa yang akan bermanfaat bagi kami, dan manfaatkan kami dengan apa yang telah Anda ajarkan kepada kami, tingkatkan pengetahuan kami, dan tunjukkan kami kebenaran sebagai kebenaran dan berikan kami pengikutnya. Sesungguhnya, Tuhan Maha Mengalami apa yang Anda lakukan (18) dan tidak seperti mereka yang telah melupakan.

Jemaat yang berdoa uterusakumullah pada hari Jumat

Marilah kita senantiasa mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada kita semua. Salam dan salam kepada Tuhan dan teladan kita, Nabi besar Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sangat penting bahwa kita merasa benar sendiri atau mengoreksi diri sendiri. Muhasabah melihat amalan yang telah dipraktikkan oleh jiwa, kemudian mengoreksi kesalahan yang dilakukan dan menggantinya dengan amalan yang benar.

Kami percaya kami semua penuh dengan kekurangan, apakah kami masih dalam kemaksiatan, ketidaktaatan, dan kadang-kadang bahkan berharap melepaskan kewajiban kami.

Allah memerintahkan kita untuk muhasabah diri kita sendiri, seperti dalam firman-Nya yang saya baca di atas:

Artinya, Allah’alamu bimurodihi: “Hai kamu yang beriman, takut kepada Allah dan biarkan semua orang memperhatikan apa yang telah dilakukannya untuk keesokan harinya (selanjutnya); dan takut kepada Allah, Allah paling tahu apa yang kamu lakukan. Dan jangan jadilah seperti orang yang melupakan Allah, dan Allah membuat mereka melupakan diri mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang jahat. ”(QS Al-Hashr: 18-19)

Inilah dalil agar kita bisa mengoreksi diri (muhasabah). Jika Anda terjebak dalam kesalahan, itu dikoreksi dan segera bertobat dan kemudian menjauh dari perantara mana pun yang dapat mengarah pada perbuatan amoral. Jika kami menemukan bahwa amalan wajib itu cacat, cobalah untuk melakukannya dengan sempurna dan minta bantuan Allah untuk memfasilitasi ibadah.
Lihatlah doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kemudahan beribadah seperti pada hadits berikut ini.

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah willallahu ‘alaihi wa sallam sekali memegang tangannya dan berkata:

O Muadh, demi Tuhan, aku tidak mencintaimu, aku mencintaimu

ِ Artinya: “Oh Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan: “Aku memberimu nasehat, oh Mu’adz. Jangan tinggalkan momen di akhir sholat dan membaca sholat:

Ya Tuhan, bantu saya untuk menyebutkan Anda, terima kasih, dan baiklah menyembah Anda
ALLOOHUMMA A’INNII ‘ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI’ IBAADATIK

Artinya: “Ya Allah, bantu aku dalam dzikir, terima kasih dan sembahlah kamu dengan baik.” BAPAK. (Abu Daud, No. 1522; An-Nasa’i, No. 1304. Al-Hafizh Abu Thahir berkata bahwa Sanad hadits ini adalah otentik.)

Hanya dengan pertolongan Tuhan kita dapat dengan mudah beribadah dan menjauhi perbuatan amoral.

Sholat Jum’at jamaah Masjid Jami ‘Al-Adha Pesantren Darush Sholihin yang selalu diridhoi oleh Allah SWT.

Apa manfaat refleksi?

1. Mempermudah penyelesaian pada Hari Penghakiman.

“Umar bin Al-Khattab radhiyallahu” anhu pernah berkata, “Hitunglah dirimu sendiri sebelum kamu menetap, yang akan memfasilitasi penyelesaianmu nanti. Timbang amal mu sebelum ditimbang. Ingat situasi kritis pada hari kebangkitan.

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُوْنَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ

Itu berarti: “Pada hari ini kamu akan dibawa (kepada Tuhanmu), tidak ada satupun dari keadaanmu yang tersembunyi (untuk Allah).” (Surat al-Haqqah: 18)

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Orang beriman rajin menghitung dan mengetahui bahwa dia kelak akan berada di hadirat Allah. Sedangkan munafik adalah orang yang lalai terhadap dirinya sendiri (menolak mengoreksi dirinya sendiri, pen.). Semoga Tuhan memberkati hamba yang terus mengoreksi dirinya sebelum malaikat maut datang mengundangnya. “(Date of Baghdad, 4: 148. Lihat A’mal Al-Qulub, hal. 372.)

2. Lanjutkan untuk mengikuti instruksi

Seperti yang disebutkan oleh Imam Al-Baidhawi Rahimahullah dalam tafsirnya bahwa seseorang dapat tetap memimpin jika dengan rajin mengoreksi perbuatan yang telah dilakukannya. (Tafsir Al-Baidhawi, 1: 131-132. Lihat A’mal Al-Qulub, hal. 372.)

3. Mengobati jantung yang sakit

Karena hati yang sakit hanya bisa hilang dan sembuh melalui refleksi diri.

4. Selalu menganggap diri Anda penuh kekurangan dan jangan tertipu dengan perbuatan yang telah dilakukan.

5. Jangan membuat diri Anda sombong (sombong)

Coba lihat apa yang dicontohkan Muhammad bin Wasis Rahimahullah ketika bersabda:

َوْ كَانَ لِلذُّنُوْبِ رِيْحٌ مَا قَدَرَ أَحَدٌ أَنْ يَجْلِسَ إِلي

Artinya: “Menganggap dosa itu berbau, tentu saja tidak ada yang mau duduk di dekat saya.” (Muhasabah An-Nafs, hal 37. Lihat A’mal Al-Qulub, hal. 373.)

6. Waktu akan digunakan dengan baik

Dalam Tabyin Kadzbi Al-Muftari (hlm. 263) Ibnu Asakir pernah menceritakan kepada Al-Faqih Salim bin Ayyub Ar-Razi Rahimahullah bahwa ia terbiasa mengoreksi dirinya sendiri dengan setiap nafas. Waktu tidak pernah terbuang. Saat ditemukan, waktu Salim Ar-Razi akan diisi dengan menyalin, belajar, atau membaca.
Oleh karena itu, setiap orang harus memikirkan diri mereka sendiri, baik yang bodoh maupun orang yang berilmu karena kelebihan besar yang disebutkan di atas. Sebelum melakukan perbuatan baik, kita harus berpikir, sama seperti kita harus memikirkan perbuatan baik. Jangan biarkan amal kita menjadi

عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ ، تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً

Artinya: “Bekerja keras lagi dengan susah payah dan bahkan melangkah ke dalam api yang sangat panas (neraka).” (QS. Al-Ghasyiyah: 3-4). Ibn Katsir rahimahullah berkata bahwa seseorang percaya dia telah melakukan banyak perbuatan baik dan merasa dalam kesulitan, bahkan pada hari penghakiman dia memasuki neraka yang sangat panas. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 549)

Bagaimana menurut saya

1. Koreksi diri dalam hal wajib, apakah ada kekurangan atau tidak.

Karena menunaikan kewajiban ini adalah hal yang utama dalam agama ini dibandingkan meninggalkan yang haram.

2. Koreksi diri dalam hal-hal yang haram, baik masih dilakukan atau belum.

Misalnya, jika dia masih berinteraksi dengan riba, dia berusaha melepaskan diri darinya. Jika Anda pernah mengambil hak orang lain, hak itu akan dikembalikan. Jika Anda pernah memberi kepada orang lain, permisi dan doakan orang itu dengan doa yang baik. Dalam hal lain dimana tidak ada kesempatan untuk koreksi (tetapi harus menyerah, seperti meminum alkohol dan melihat wanita yang bukan mahram), diperintahkan untuk bertaubat, bertaubat dan bertekad bahwa Tidak mengulangi dosa lagi dengan peningkatan dalam perbuatan baik yang bisa menghilangkan keburukan. Allah Ta’ala berkata:

لِلذَّاكِرِينَ

Artinya, “Dan mendirikan doa di kedua sisi siang hari (pagi dan sore) dan di awal malam. Lihat, perbuatan baik menghilangkan kejahatan. Ini adalah pengingat bagi mereka yang mengingat.” (QS. Hud: 114)

3. Memperbaiki diri sendiri atas kelalaian yang dilakukan.

Contohnya adalah sibuk bermain dan menonton, yang tidak ada gunanya.

4. Koreksi diri Anda

Dengan apa yang dilakukan anggota tubuh, apa yang dilakukan kaki, tangan, pendengaran, penglihatan, dan mulut.

Cara untuk memperbaikinya adalah dengan melibatkan anggota tubuh dalam ketaatan.

5. Koreksi diri dengan niat

Bagaimana kita ingin berbuat baik, apakah itu Lillah atau Lighairillah (niat tulus karena Allah atau tidak).

Karena niat digunakan untuk berubah, goyah. Itulah sebabnya hati disebut Qalb karena sering goyah.

Demikianlah khotbah pertama ini. Semoga Allah membaptis dan membimbing kita semua.

Semoga Tuhan memberkati saya dan Anda dalam Al-Qur’an yang agung dan memberi manfaat kepada saya dengan apa yang terkandung di dalamnya ayat dan dzikir orang bijak. Terimalah dari saya dan dari Anda untuk melafalkannya. Dia Maha Mendengar, Mahatahu.

Khotbah kedua

Alhamdulillah, syukurlah sesuai yang diperintahkan. Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Tuhan sendiri, dan dia tidak memiliki sekutu yang memaksanya untuk menyangkalnya, dan saya bersaksi bahwa tuan kita Muhammad menyembahnya dan perkataannya diucapkan oleh guru Olbula, penguasa penciptaan. Semoga damai sejahtera dan berkah Tuhan atas Nabi Muhammad dan keluarga serta sahabatnya, dan damai sejahtera yang besar.

Wahai Muslim, semoga Tuhan mengasihani Anda! Takutlah pada Tuhan, berbuat baik dan hindari perbuatan buruk, karena Tuhan dan malaikatnya berdoa pada Nabi, hai orang yang beriman.

Ya Tuhan, ampunilah pria dan wanita Muslim, orang-orang beriman, wanita beriman yang hidup dari mereka dan orang mati, bahwa Engkau adalah pendengar yang dekat, penjawab doa, penjawab doa, pahala. Ya Tuhan, berikan kemenangan untuk agama dan biarkan Muslim gagal.

Hamba Tuhan!

Jadi khotbah tentang; Contoh khutbah Jum’at tentang cara muhasabah untuk diri sendiri. Semoga bisa membawa manfaat dan ilmu bagi kita semua. Terima kasih.

Lihat Juga : https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-tawasul-arab-ringkas/